Pengkhianatanmu adalah Penyelamatanku

May 24th, 2012

Setelah sekian lama tak menjamah dunia maya, akhirnya saya putuskan untuk menunggu suami yang lagi nganter pak Kyai setelah pengajian malam jum’at ini dengan cara corat-coret ga penting di blog.

Tadinya saya ingin memilih topik tentang ” I’m Javanese, and I’m proud it “…atau kisah kelakuan aneh orang-orang yang berada dalam bis saat kami pulang menuju Magelang dari Jakarta. Tapi topik tsb langsung saya simpan di Draft, karena ada seorang teman SMP saya menceritakan bahwa dia telah diceraikan oleh suaminya karena WIL (Wanita Idaman Lain). Padahal usia pernikahan mereka kurang dari 3 tahun, dan merekapun telah dikaruniai seorang putra. Saya tak dapat memberi respon positif (selain mendengarkan dan berdoa untuknya) saat dia menceritakan kepingan kisah pahit perjalanan hidupnya kali ini. Tak terbayangkan bagaimana sakitnya perasaan wanita yang dikhianati setelah dia tulus memberikan cinta dan kesetiaan untuk (mantan) suaminya itu. Betapa perihnya saat (mantan) suaminya itu memberikan talak di hadapan “Sang Kekasih Baru”!!!! Huuggfftt…sungguh-sungguh tak terbayangkan olehku.

Memang beberapa waktu lalu pun, saya sempat mendengar kisah gila seperti ini. Dan saya selalu tak bisa men-cheers up “sang korban” saat mereka menuturkan kisah perihnya kepada saya, saya hanya mampu untuk mendengarkan. Meskipun kata-kata penyemangat itu mampu saya keluarkan dari bibir tipis ini untuk menghibur mereka, tapi tidak akan saya lakukan karena saya tidak mau munafik. Jika saya di posisi mereka (naudzubillahi min dzalik), saya pun akan melakukan hal yang sama dengan mereka…menangis & berlahan mengikiskan cinta itu dari hati saya.

Mungkin hanya Mario Teguh yang dapat berkata-kata indah untuk seorang yang sedang salit karena dikhianati.

” Engkau yang sedang terluka oleh pengkhianatan, dengarlah ini …

Pembalasan tercantik untuk dia yang mengkhianati cintamu, adalah menjadi pribadi yang diinginkan oleh orang-orang yang lebih baik daripadanya.
Jangan turunkan kelas pribadimu karena kepalsuannya.
Jangan rusak daya tarikmu karena dustanya.
Jangan redupkan sinar keindahan wajahmu karena keburukan hatinya.
… Dan jangan turuti kecenderungan umum untuk mengambil apa pun sebagai penggantinya agar engkau tak merasa dibuang.
Engkau lebih berkelas daripada itu.
Indahkanlah dirimu. Gembirakanlah hatimu dalam pergaulan yang lebih terhormat.
Memang sulit untuk melihat kebaikan di balik luka pengkhianatan.
Tapi bersabarlah.
Jadilah pribadi yang lebih menarik bagi orang-orang yang lebih berkelas daripada seorang pengkhianat cinta.
Engkau akan mensyukuri ini nanti, karena sesungguhnya pengkhianatannya adalah penyelamatanmu.

Uuuh … indah sekali ya?
Katakanlah …
“Pengkhianatanmu adalah penyelamatanku.”

Mario Teguh – Loving you all as always…

*Dedicated to: “DW” yang memiliki keberanian besar dan jiwa yang lapang. “MM” yang memiliki keikhlasan dan ketulusan yang luar biasa untuk bisa menerima dirinya kembali. “Sang Korban” lainnya…Pengkhianatanmu adalah Penyelamatanku!

My Friendster

August 19th, 2010

Siang ini, suasana kantor sepiiiiiiiiiii bgt, cuma ada 5 orang di Lt.2 yang sibuk dengan rutinitasnya. Mungkin hanya saya yang tidak begitu sibuk karena memang tidak ada kandidat yang harus di test hari ini. Sehingga banyak waktu untuk cek Facebook yang (sebenarnya) belakangan ini saya sudah mulai jenuh dengan situs jejaring tsb. Tiba-tiba saja teringat situs jejaring FRIENDSTER. Waahh..udah lama banget ga pernah buka FS. Seperti apa ya sekarang?

Pertama, saya lihat profile-nya. Disitu saya tuliskan shoutout yang berbunyi : “I believe in true love and I will love you every day, and more each day after. I will never stop appreciating you and I will always treat you like the wonderful gift that ALLOH gave to man.12/21/2009”

Siapapun bisa menerka, ditujukan untuk siapa shoutout tsb. Pastinya dia adalah someone special in my heart. Ya, shoutout itu saja tujukan untuk suamiku tercinta.

Kemudian saya klik menu “who’s viewed me” di FS tsb. Dilanjut dengan membuka message pada inbox FS tsb. Ga nyangka, ada beratus-ratus message didalamnya. Satu per satu saya baca ulang message dari teman-teman saya. Hingga akhirnya saya menemukan satu message dengan subject : sorry dari id yg bernama “over” yang dikirim pada tanggal 11-Sept-2008 10:27 pm. Berikut kutipan message-nya :

Subject: sorry
Message:
kayaknya cuman sorry yang bisa mahen bilang ke kamu.

untuk semua yang udah mahen lakuin ke kamu.

especially “ngrebut a iky” dari kamu

mahen ngga tau ke harus mulai dari mana

mahen hutang banyak penjelasan ke kamu soal a iky.

tapi kalo kamu emang udah ngga butuh itu malah lebih baik buat mahen

bukan karena mahen mo lari dari masalah atau tanggung jawab

cuman rasanya masih terlalu menyakitkan kalo inget a iky

kamu pasti tau kan mahen udah putus sama a iky

hubungan yang konyol memang

mahen cuman pengen minta maaf buat segalanya

and lets talk…

actually, i need talk to you…

entahlah

mahen butuh temen buat cerita aja soal rasa sakit ini

mahen ngga nyangka aja semuanya bakalan sesakit ini

mahen ngga sadar ternyata mahen selama ini memang jatuh cinta sama dia

sangat sangat jatuh cinta

mungkin ini yang kamu rasain waktu itu

waktu a iky mutusin kamu

mahen salut sama kamu

karena bisa mengatasi hal patah hati ini dengan berdiri tegak dan tetap memandang ke depan

can you teach me?

mahen sangat tersiksa ke…

banget

mahen ngga mau kayak gini terus

tapi dia ngga bisa hilang juga dari ingatan

apalagi tau dia sekarang udah punya cewe lagi…

hanya selisih sehari dua hari setelah mutusin mahen

sakit banget

rasanya seperti ditamparin berkali2

mahen dipecundangin

udah ketiga kalinya dia bikin mahen patah hati

yang terakhir dia janji ngga bakalan nyakitin n ninggalin mahen lagi

dan itu hanya dua minggu yang lalu

bagaimana bisa hati orang berubah secepat itu?

dan bagaimana bisa mahen sangat2 jatuh cinta sama dia

mahen ngga bia nemu jawabannya

terlalu sulit dimengerti

terlalu sulit bagi logika mahen.

sorry ke…

cuman kata2 itu yang bisa mahen bilang ke kamu

soal kenapa kamu ku del dari friends list dan comment di blog adalah lebih karena mahen merasa seperti semakin dipecundangin

mahen ngerasa kamu tertawain mahen soal semua ini

mahen lagi labil banget emosinya

mahen lagi brusaha buat kembali fitrah

tapi ternyata cara mahen salah

ternyata menyendiri bukan solusinya

just forgive me please…

Membaca message tsb, spontan semua kenangan pahit di tahun 2008 itu kembali berputar dalam ingatanku. Aku ingat siapa wanita bernama mahen itu, sangat ingat…

Mahendra Rani Dewi Rahilya, wanita selingkuhan dari laki-laki yang (pernah) menempati ruang di hatiku selama kurang lebih enam tahun. Wanita yang…berhasil membuat orang yg (pernah) kusayang berpaling dariku di saat aku mati-matian berjuang mempertahankan hubungan kami. Semua kenangan itu kembali bergentayangan dalam ingatanku. Bukan kenangan indah yang kulalui bersama laki-laki itu, tapi justru kenangan bagaimana laki-laki itu tega menyakitiku dengan cara yang begitu keji (bagiku), bagaimana dia menginjak-injak harga diriku, bagaimana dia mengkhianati ketulusan yang pernah aku berikan untuknya, bagaimana bisa dia berselingkuh dan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan sebelum pernikahan diselenggarakan diantara mereka.

Perlahan…Luka itu kembali terasa dalam hatiku, sedikit terasa namun tetap saja perih. Mungkin waktu 2 tahun belum cukup mampu untuk mengeringkan luka yang terlalu dalam itu atau mungkin luka itu akan tetap meninggalkan goresan dalam hatiku selamanya?? Entahlah…

aaakkhh…sudahlah. Yang pasti, masa lalu itu banyak memberi hikmah bagiku. Dari kejadian itu, aku bisa tahu sejauh mana tingkat kesetiaanku kepada pasanganku, sejauh mana aku bisa menjadi wanita yang mampu menjaga kehormatanku, bagaimana aku harus me-manage rasa rindu dan kecemburuanku agar tidak melahirkan sifat posesif, dan yang terpenting adalah masa lalu yang pahit itu telah mengantarku berjumpa dengan laki-laki terbaik dalam hidupku, laki-laki yang (insya alloh) mampu menjadi imam dalam hidupku, laki-laki yang mampu membimbingku dengan kesabaran yang dimilikinya, laki-laki yang menyayangiku dengan kelemah-lembutan & ketulusan hatinya. Semua yang ia miliki, baik kelebihan maupun kekurangannya telah mampu membuatku membuka hati untuk dirinya. Dan aku akan tetap mencintainya dengan kesetiaan utuh yang kupunya hingga akhir waktu. Semoga Alloh berkenan. Amin.

** Mungkin dia (suamiku) bukan type laki-laki romantis yang bisa merayu wanita, tapi aku mampu merasakan kehangatan cinta yang dimilikinya saat ku berada dalam pelukannya.

Hiks..hiks…jadi makin kangen sama kangmas suamiku!! Cepatlah tanggal dua puluh tujuuuuuuuuuuuuuuuhhh…

Saat Om Adun Ga Enak Badan

August 19th, 2010

Diawali dari bangun sahur yang males-malesan, karena malem kebanyakan ngemil, pikiran ini masih aja ngitungin hari : kapan bisa ketemu kangmas suamiku yang baik hati dan menggemaskan itu?? Siang malam udah smsan…siang malam pula udah telpon-telponan tapi tetep aja kangen berat sama doi. Maklum, udah 2minggu terpisah jarak jd bawaannya pengen ketemu mas arjuna-ku…

Pagi harinya, berangkat ke tempat kerja sendiri. Karena Sang Ojek Volunteer lagi ga enak badan. Alhasil, wanita hamil menuju minggu ke-32 ini harus nyetir motor sendiri. Sempet ada sedikit kekhawatiran siy, tapi begitu kekhawatiran itu tiba, si dede langsung ngasih respon positif dengan “nyundul-nyundul” perut si ibu & bikin optimis ibunya untuk bawa motor sendirian. Mantaapp…anakku suka tantangan niy 🙂 Bismillah…Semoga selamat sampai tujuan.

Alhamdulillah bisa sampe tempat tujuan dengan aman dan selamat. Kamu hebat ‘de…pengertian ya klo om-nya lagi ga bisa nganter 🙂 Kita doain om adun biar badannya cepet sembuh dan bisa nganter kita lagi yah?! (^._.^)

R.I.P

August 6th, 2010

Pertengahan november 2009, aku mengenalnya…Wanita tua berkulit putih bersih itu tersenyum cantik saat aku datang bersama suamiku mengunjungi dirinya yang sedang sakit di pembaringan. Kuperkirakan usia beliau sekitar 75 s/d 80-tahunan. Meskipun goresan keriput sudah jelas diwajahnya, namun beliau masih saja terlihat cantik 🙂 jadi terbayang secantik apa beliau di masa mudanya. Dia adalah wanita yang merawat ibu mertua-ku, wanita yang menjadi mbah uti dari suamiku, kami memanggilnya “Mbah Ipin” karena beliau tinggal bersama Lik Ipin. Saat menginjakkan kaki di kota Magelang, aku banyak mendengar cerita tentang beliau dari ibu mertuaku.

Setelah perkenalanku dengan beliau, ibu mertuaku cukup sering mengajakku ke tempat mbah Ipin untuk sekedar mengantarkan makanan kegemarannya yaitu pisang goreng dan perkedel kentang. Dua atau tiga hari sekali kami mengunjunginya untuk sekedar sedikit mengobrol dan mengambil pakaian kotornya untuk kami cuci di rumah. Ini bentuk perhatian dari ibu mertuaku sebagai anak di masa tua orang tuanya.  Terkadang ibu memintaku untuk mengunjungi beliau seorang diri (karena suamiku bekerja, jd tdk mungkin menemaniku). Sebenarnya aku sama sekali tak keberatan untuk datang mengunjunginya seorang diri, tapi masalahnya adalah Mbah Ipin ini termasuk orang yang ramah dan gemar mengobrol, termasuk mengobrol denganku sbg “cucu baru”-nya. Mungkin banyak hal yang ingin beliau tahu tentang istri dari cucu-nya ini…Dan aku selalu bingung saat menjawab setiap pertanyaan darinya karena aku tak fasih berbahasa jawa halus (kromo).  Jadi teringat satu kenangan bersamanya, saat itu tak ada siapapun di dalam kamarnya, hanya ada aku dan mbah Ipin. Mbah terus saja mengajakku ngobrol dengan bahasa jawa meskipun berkali-kali aku katakan : “Kulo mboten sanget omong njowo kromo mbah..hehehehe” tap mbah malah tertawa mendengar jawabannya dan tentu saja disertai dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terhenti karena pengakuannya. Alhasil…akupun terpaksa berbicara bahasa jawa kromo…meskipun hasilnya: LUCU (^._.^)

Februari 2010, aku pergi meninggalkan kota magelang…Sejak kepergianku ke kota yang saat ini aku tempati, aku jarang sekali mendengar kabar tentang mbah Ipin. Jangankan kabar tentang beliau,kabar tentang Ibu mertua-ku saja bisa di hitung dengan jari.

Juli 2010, aku mendengar kabar bahwa mbah Ipin terjatuh di kamar mandi…

1 Agustus 2010…Aku mengizinkan suamiku pergi ke Magelang.

Setelah melewati acara jalan-jalan bersama suamiku sebagai acara perayaan Ulang Tahun ku sehari sebelumnya, akupun mengizinkan suamiku untuk pergi ke Magelang. Entah mengapa, aku tak memberatkan kepergiannya meskipun pasti akan timbul rindu-rindu di setiap hari-hariku tanpanya (seperti yang aku rasakan beberapa hari ini).

4 Agustus 2010…“Sayangkyu pa kbr de2 kita hari ini? panda td ma mbah uti + mbah kalim mandiin mbah uyut. nanti mlm mbah uti mo tidur sana jg. kayanya dah perlu ditunggu terus tu. pada ditanyain je istrikyu”

Sms pertama di hari itu yang dikirim oleh suamiku. Ada rasa kekhawatiran di pikiranku tentang mbah Ipin. Malamnya, suamiku memberi kabar lagi bahwa semua anggota keluarga berkumpul di tempat Lik Ipin untuk menemani mbah Ipin. Entah suatu kebetulan atau mereka memiliki feeling yang kuat, seakan-akan seluruh keluarga sudah mengetahui bahwa usia mbah Ipin tidak akan lama lagi. Dan benar saja, pada hari Kamis, 5 Agustus 2010 Pukul 02:50WIB  mbah Ipin menghembuskan nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun…Selamat Jalan Mbah Uyut, Semoga Amal Ibadahmu di terima oleh Alloh SWT dan Alloh melapangkan kuburmu. amin…Maaf jika aku tak sempat hadir pada pemakamanmu 🙁 weloveyou mbah…

Aku bukan bidadari yang…

April 23rd, 2010

Aku bukan bidadari yang bisa selalu terlihat cantik dihadapanmu.
Aku bukan bidadari yang dapat mewujudkan segala apa yang kumau (ataupun kau mau).
Aku bukan bidadari yang selalu bisa menyiramkan kebahagiaan dalam hidupmu.
Aku bukan bidadari yang tega melihat kesedihan di wajahmu.
Dan aku bukan bidadari yang rela ada luka di hatimu.
Tapi aku adalah bidadari yang akan selalu setia menemani setiap detik dalam hidupmu.

Makna Rizki Tidak Selalu Berbentuk Uang

April 9th, 2010

Dear My beloved Hubby…
Apakah kau tau, bahwa rizki tidak selalu berbentuk uang???

Rizki tidak selalu berbentuk uang, kesehatan yang ada pada kita juga adalah rizki. Tanpa kesehatan itu, engkau maupun diriku tak kan mampu menjemput rizki dari-Nya untuk menafkahi hidup kita.

Rizki tidak selalu berbentuk uang, pekerjaan dan usaha yang telah dan akan kita lakukan pun itu adalah rizki. Itu mengapa aku selalu berusaha untuk tetap bertahan dengan kondisi yang sedang kita hadapi maupun kondisi yang nanti akan kita hadapi.

Suamiku sayang…
sadarkah kau bahwa janin yang nanti akan hadir sebagai anak kita, itupun rizki yang tak ternilai dalam hidup kita. Setiap detik yang kita lalui bersama, itupun rizki dari-Nya yang harus kita syukuri. Waktu yang kau berikan untuk memanjakanku, perasaan sayang yang selalu mengelilingi pernikahan kita, dan keharmonisan dua keluarga yang menyatu dalam rasa saling menghormati, itupun rizki yang tidak semua orang mendapatkannya. Dan aku bersyukur telah masuk ke dalam hidupmu dan memiliki mereka sebagai keluarga baruku (hiks..hiks…dadi kelingan gombis je, kangen…).

Suamiku yang berhati lembut..
Sekali lagi, rizki tidak selalu berbentuk uang…karena bagiku, melewati hari bersamamu seumur hidupku adalah juga rizki. Semoga Alloh mengizinkan..Amin.
iloveu, always…

09.April.2010 ; 4.49pm

I’m pregnant…

April 8th, 2010

Ga kerasa udah 3 bulan ini gw berhasil ngelewatin morning sickness, tinggal 1 bulan lagi..ga perlu mual, ga perlu muntahin makanan yang masuk ke dalam perut gw. Kalo direnungi kembali, betapa beruntungnya gw…dalam usia pernikahan gw yang baru 5 bulan, Alloh udah mengizinkan janin hidup di dalam rahim gw dengan usia 3 bulan. hip..hip…horeeeeeeeee…

Dan lebih beruntungnya lagi, saat ini gw berada di tengah-tengah orang yang menyayangi gw. Ada bude’ yang langsung mbawain udang galah pas denger gw hamil (katanya sih udang baik buat otak, biar anaknya nanti cerdas) dan otomatis hal ini memicu nyokab gw masak udang hampir tiap hari…ckckckck

Temen-temen di tempat kerja yang extra perhatian sm kondisi gw yang “kecil-kecil hamil”..tiap kali mereka liat gw naik atau turun tangga, pasti mereka pesen “pelan-pelan, jangan lupa pegangan”. Pernah juga suatu hari gw naik turun tangga berulang-ulang dengan lincahnya, begitu selesai sholat jama’ah, salah satu rekan kerja gw (yg udah gw anggap orang tua sendiri) ngomel-ngomelin gw (kayak emak gw aja ya?!)..huuuggfftt…tadinya sih sempet ngerasa gimanaaa gitu ya, tapi gw sadar mereka begitu karena mereka sayang gw. Ada juga temen gw yang ngebawain sayur tumis kulit melinjo pedes saat sehari sebelumnya gw bilang pengen sayur itu. Padahal dia sama sekali ga doyan tuh sayur, alhasil sang koki yg masak sayur itu (bininya) terheran-heran, mungkin sambil b’gumam dalam hati “tumben amat laki gw bawa sayur begituan..????”. Kehamilan gw juga membawa dampak buat OB di tempat kerja gw. Karena gw sering nitip beliin juice di saat makan siang, dia sampe baca artikel juice yg baik buat ibu hamil, dan bisa ditebak..saat ini dia berasa jadi konsultan gizi specialist Juice…hehehehee…biarlah, kuhargai jerih payahnya (^^,)

Dan keberuntungan gw lainnya, saat gw hamil seperti ini…Mas arjuna-ku senantiasa ada disampingku. Oohhh bahagianya memiliki dirinya sebagai suami…dia lebih memanjakan gw sbg istrinya. Dia lebih merhatiin gw sbg calon ibu dari anak kami. Dan pastinya dia makin menyayangi gw dari hari ke hari..karena emang gw sangat pantas untuk disayangi, sama pantasnya dengan dirinya yang patut untuk disayangi dengan tulus…heheheee…muji-muji ra mutu ki!!

Yaa Robb…segala puji bagi-Mu yang telah memberikan kebahagiaan ini padaku..Semoga Engkau tetap menjaga keluarga-ku untuk mempertahankan kebahagiaan ini. Amin.

Dedicated to My LOvely Parent

October 13th, 2009

Bapak…Mama…

Makasih ya udah ngeluangin waktu untuk ngebeliin batik sarimbit buat anak gadis-mu yang bandel ini. Ga tau lagi gimana cara ngebales perhatian dan kasih sayang yang udah kalian (mama & bapak) berikan sepanjang hidup ike ini.

Belum lagi dalam hitungan bulan, anak gadis-mu yang bawel ini ga tinggal bersama kalian lagi. Huuugghhff…pasti ga ada “kicauan” lagi saat nonton tv bareng..udah kebayang deh gimana rasa kangen yang akan muncul saat berjauhan dengan kalian. Tapi ike ga akan menyesal untuk meninggalkan kalian, karena ike yakin..meskipun kita berjauhan, kita akan tetep bahagia. Kedamaian hidup yang kita cari bersama akan segera datang.. Dan suatu hari nanti, (jika Alloh mengizinkan) kita pasti akan berkumpul lagi. Ike tunggu mama & bapak di Magelang ya (^^,)


13-Okt-2009 ; 4pm

Saat tersadar cintaku tak kan mampu menandingi cinta kalian

Cinta Luar Biasa dari Laki-laki Biasa

October 3rd, 2009
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt.

Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

– Asma Nadia –

* Dedicated to Mas Arjuna : “Inilah alasan mengapa aku menyayangimu dan membiarkanmu masuk ke dalam hidupku lebih dalam lagi.”

10 SIKAP HIDUP BAHAGIA

September 17th, 2009

Anda ingin hidup bahagia?

Berikut ini 10 Sikap yang harus dimiliki jika Anda ingin Bahagia yaitu :

1. Lepaskan Rasa Takut dan Khawatir.

2. Buang Rasa Dendam.

3. Berhenti Mengeluh.

4. Selesaikan Masalah satu per satu.

5. Tidur dengan Nyenyak.

6. Jauhi Urusan Orang Lain.

7. Hiduplah pada masa sekarang, bukan pada masa lalu.

8. Jadilah Pendengar Yang Baik.

9. Berpikir Positif.

10. Bersyukur.