R.I.P

Pertengahan november 2009, aku mengenalnya…Wanita tua berkulit putih bersih itu tersenyum cantik saat aku datang bersama suamiku mengunjungi dirinya yang sedang sakit di pembaringan. Kuperkirakan usia beliau sekitar 75 s/d 80-tahunan. Meskipun goresan keriput sudah jelas diwajahnya, namun beliau masih saja terlihat cantik 🙂 jadi terbayang secantik apa beliau di masa mudanya. Dia adalah wanita yang merawat ibu mertua-ku, wanita yang menjadi mbah uti dari suamiku, kami memanggilnya “Mbah Ipin” karena beliau tinggal bersama Lik Ipin. Saat menginjakkan kaki di kota Magelang, aku banyak mendengar cerita tentang beliau dari ibu mertuaku.

Setelah perkenalanku dengan beliau, ibu mertuaku cukup sering mengajakku ke tempat mbah Ipin untuk sekedar mengantarkan makanan kegemarannya yaitu pisang goreng dan perkedel kentang. Dua atau tiga hari sekali kami mengunjunginya untuk sekedar sedikit mengobrol dan mengambil pakaian kotornya untuk kami cuci di rumah. Ini bentuk perhatian dari ibu mertuaku sebagai anak di masa tua orang tuanya.  Terkadang ibu memintaku untuk mengunjungi beliau seorang diri (karena suamiku bekerja, jd tdk mungkin menemaniku). Sebenarnya aku sama sekali tak keberatan untuk datang mengunjunginya seorang diri, tapi masalahnya adalah Mbah Ipin ini termasuk orang yang ramah dan gemar mengobrol, termasuk mengobrol denganku sbg “cucu baru”-nya. Mungkin banyak hal yang ingin beliau tahu tentang istri dari cucu-nya ini…Dan aku selalu bingung saat menjawab setiap pertanyaan darinya karena aku tak fasih berbahasa jawa halus (kromo).  Jadi teringat satu kenangan bersamanya, saat itu tak ada siapapun di dalam kamarnya, hanya ada aku dan mbah Ipin. Mbah terus saja mengajakku ngobrol dengan bahasa jawa meskipun berkali-kali aku katakan : “Kulo mboten sanget omong njowo kromo mbah..hehehehe” tap mbah malah tertawa mendengar jawabannya dan tentu saja disertai dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terhenti karena pengakuannya. Alhasil…akupun terpaksa berbicara bahasa jawa kromo…meskipun hasilnya: LUCU (^._.^)

Februari 2010, aku pergi meninggalkan kota magelang…Sejak kepergianku ke kota yang saat ini aku tempati, aku jarang sekali mendengar kabar tentang mbah Ipin. Jangankan kabar tentang beliau,kabar tentang Ibu mertua-ku saja bisa di hitung dengan jari.

Juli 2010, aku mendengar kabar bahwa mbah Ipin terjatuh di kamar mandi…

1 Agustus 2010…Aku mengizinkan suamiku pergi ke Magelang.

Setelah melewati acara jalan-jalan bersama suamiku sebagai acara perayaan Ulang Tahun ku sehari sebelumnya, akupun mengizinkan suamiku untuk pergi ke Magelang. Entah mengapa, aku tak memberatkan kepergiannya meskipun pasti akan timbul rindu-rindu di setiap hari-hariku tanpanya (seperti yang aku rasakan beberapa hari ini).

4 Agustus 2010…“Sayangkyu pa kbr de2 kita hari ini? panda td ma mbah uti + mbah kalim mandiin mbah uyut. nanti mlm mbah uti mo tidur sana jg. kayanya dah perlu ditunggu terus tu. pada ditanyain je istrikyu”

Sms pertama di hari itu yang dikirim oleh suamiku. Ada rasa kekhawatiran di pikiranku tentang mbah Ipin. Malamnya, suamiku memberi kabar lagi bahwa semua anggota keluarga berkumpul di tempat Lik Ipin untuk menemani mbah Ipin. Entah suatu kebetulan atau mereka memiliki feeling yang kuat, seakan-akan seluruh keluarga sudah mengetahui bahwa usia mbah Ipin tidak akan lama lagi. Dan benar saja, pada hari Kamis, 5 Agustus 2010 Pukul 02:50WIB  mbah Ipin menghembuskan nafas terakhirnya. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun…Selamat Jalan Mbah Uyut, Semoga Amal Ibadahmu di terima oleh Alloh SWT dan Alloh melapangkan kuburmu. amin…Maaf jika aku tak sempat hadir pada pemakamanmu 🙁 weloveyou mbah…

353 Responses to “R.I.P”

  1. luther says:

    .

    good info….

  2. Floyd says:

    .

    áëàãîäàðþ….

  3. Perry says:

    .

    áëàãîäàðþ!…

Leave a Reply